Perempuan yang menantang tambang terbesar di dunia
Lahir di Tsinga sekitar 1940-an, Yosepha Alomang menghabiskan lebih dari tiga dekade melawan operasi tambang emas dan tembaga Freeport-McMoRan di tanah leluhur suku Amungme. Yosepha bertahan dari penyiksaan militer, kehilangan anak sulungnya karena kelaparan saat bersembunyi di hutan, dan tetap membangun koperasi, lembaga HAM, serta gerakan perempuan adat hingga meraih Goldman Environmental Prize 2001.
Disusun dari Goldman Environmental Prize Foundation, dokumentasi Down to Earth, dan liputan Konde.co. Klik tiap titik untuk membaca detail.
Sejak konsesi tambang dimulai, pos-pos keamanan militer yang menjaga wilayah operasi Freeport menjadi titik gesekan berulang dengan masyarakat adat Amungme.
Menyusul temuan kandungan emas oleh Forbes Wilson di Gunung Nemangkawi dan disahkannya UU Penanaman Modal Asing, eksploitasi tambang oleh Freeport dimulai di tanah leluhur Amungme dan Kamoro.
Freeport mengadakan pertemuan dengan suku Amungme untuk mengizinkan operasi tambang, sebuah kesepakatan yang menurut masyarakat adat dilakukan tanpa persetujuan penuh dan berujung sengketa tanah berkelanjutan.
Militer menembaki desa dan menewaskan sekitar 30 orang Papua setelah protes damai warga atas perampasan tanah oleh Freeport di Agimuga. Sebagai balasan, ratusan warga Amungme memotong pipa tambang milik Freeport — memicu operasi militer yang memaksa keluarga Yosepha bersembunyi di hutan, tempat anak sulungnya, Johanna, meninggal karena kelaparan.
Yosepha ditahan tentara atas tuduhan membantu Kelly Kwalik, tokoh Organisasi Papua Merdeka (OPM). Ia dikurung dalam ruangan berisi kotoran dan urin manusia setinggi lutut tanpa makan-minum yang layak, serta diinterogasi dan disiksa selama beberapa minggu.
Yosepha berunjuk rasa menuntut pertanggungjawaban atas kerusakan bendungan tailing Wanagon di Timika. Pada 2003, longsor di tambang Grasberg menewaskan 8 pekerja akibat kelalaian — Yosepha kembali menuntut Freeport meninggalkan Papua.
Laporan "Stop Sudah!" Komnas Perempuan mendokumentasikan kasus pemerkosaan berulang terhadap seorang anak perempuan berusia 11 tahun oleh pasukan Batalion 753 di wilayah dekat konsesi tambang — anak tersebut meninggal akibat luka yang tak diobati karena orang tuanya takut melapor.
Perjuangan Mama Yosepha membingkai kerusakan lingkungan dan penindasan gender sebagai dua sisi mata uang yang sama.
Perempuan Amungme menanggung beban ganda: kehilangan tanah dan sumber pangan akibat tambang, sekaligus risiko kekerasan dari aparat yang menjaga wilayah konsesi.
Yosepha ditahan bersama aktivis perempuan lain, Mama Yuliana, menunjukkan pola penargetan terhadap perempuan yang terlibat dalam advokasi masyarakat adat.
Ia memimpin ratusan perempuan Amungme membakar tungku di bandara Timika dan membentuk koperasi Kulakok, membangun basis ekonomi mandiri di tengah tekanan militer.
Uang penghargaan Yap Thiam Hien dan dana dari Freeport digunakan mendirikan YAHAMAK (Yayasan Hak Asasi Manusia Anti Kekerasan) untuk pendampingan korban penyiksaan dan penahanan di Timika.